Jumat, 08 Maret 2013

KEBUTUHAN SPIRITUAL DALAM KEPERAWATAN


KEBUTUHAN SPIRITUAL


A.      PENDAHULUAN

Penting sekali bagi seorang perawat memahami perbedaan antara spiritual, keyakinan dan agama guna menghindarkan salah pengertian yang akan mempengaruhi pendekatan perawat dengan pasien. Spiritualitas merupakan suatu konsep yang unik pada masing-masing individu.Manusia adalah makhluk yang mempunyai aspek spiritual yang akhir-akhir ini banyak perhatian dari masyarakat yang disebut kecerdasan spiritual yang sangat menentukan kehagiaan hidup  seseorang. Perawat memahami bahwa aspek ini adalah bagian dari pelayanan yang komprehensif. Karena selama dalam perawatan, respon spiritual kemungkian akan muncul pada pasien.
Pasien yang sedang dirawat dirumah sakit membutuhkan asuhan keperawatan yang holistik dimana perawat dituntut untuk mampu memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif bukan hanya pada masalah secara fisik namun juga spiritualnya. Untuk itulah materi spiritual diberikan kepada calon perawat guna meningkatkan pemahaman dan kemampuan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan kebutuhan spiritual.













B.      SPIRITUAL
1.       Pengertian
Spiritual berasal dari bahasa latin spiritus, yang berarti bernafas atau angin. Ini berarti segala sesuatu yang menjadi pusat semua aspek dari kehidupan seseorang (McEwan, 2005). Spiritual adalah keyakinan dalam hubungannya dengan yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta (Hamid, 1999).

Spiritual merupakan kompleks yang unik pada tiap individu dan tergantung pada budaya, perkembangan, pengalaman hidup, kepercayaan dan ide-ide tentang kehidupan seseorang (Potter & Perry, 1999)

Menurut Burkhardt (1993) dalam Hamid (1999) spiritual meliputi aspek sebagai berikut:
a.       Berhubungan dengan sesuatu yang tidk diketahui
b.      Menemukan arti dan tujuan hidup
c.       Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri sendiri.
Kepercayaan artinya mempunyai kepercayaan atau komitmen terhadap sesuatu atau seseorang, sementara agama merupakan sistem ibadah yang teratur dan terorganisasi (Hamid, 1999)

2.       Karakteristik
1.      Hubungan dengan diri sendiri
Kekuatan dalam dan self relience
a.       Pengetahuan diri (siapa dirinya dan apa yang dapat dilakukannya)
b.      Sikap (percaya diri sendiri, percaya pada kehidupan/ masa depan, ketenangan pikiran, harmoni/ keselarasan dengan diri sendiri)
2.      Hubungan dengan alam
Harmoni
a.       Mengetahui tentang alam, iklim, margasatwa
b.      Berkomunikasi dengan alam (berjalan kaki, bertanam), mengabdikan dan melindungi alam
3.      Hubungan dengan orang lain
Harmoni/ Suportif
a.       Berbagi waktu, pengetahuan dan sumber secara timbal balik
b.      Mengasuh anak, orang tua dan orang sakit
c.       Meyakini kehidupan dan kematian (mengunjungi, melayat)
Tidak harmonis
a.       Konflik dengan orang lain
b.      Resolusi yang menimbulkan ketidakharmonisan dan friksi
4.       Hubungan dengan Ketuhanan
Agamis atau tidak agamis
a.       Sembahyang/ berdoa/ meditasi
b.      Perlengkapan keagamaan
a.       Bersatu dengan alam

3.       Perkembangan spiritual
a.           Bayi dan todler (1-3 tahun)
Tahap awal perkembangan spiritual adalah rasa percaya dengan yang mengasuh dan sejalan dengan perkembangan rasa aman, dan dalam hubungan interpersonal, karena sejak awal kehidupan mengenal dunia melalui hubungan dengan lingkungan kususnya orangtua. Bayi dan todler belum memiliki rasa bersalah dan benar, serta keyakinan spiritual. Mereka mulai meniru kegiatan ritual tanpa tau arti kegiatan tersebut dan ikut ketempat ibadah yang mempengaruhi citra diri mereka.
b.           Prasekolah
Sikap orang tua tentang moral dan agama mengajarkan pada anak tentang apa yang dianggap baik dan buruk.anak pra sekolah belajar dari apa yang mereka lihat bukan pada apa yang diajarkan. Disini bermasalah jika apa yang terjadi berbeda dengan apa yang diajarkan.
c.           Usia sekolah
Anak usia sekolah Tuhan akan menjawab doanya, yang salah akan dihukum dan yang baik akan diberi hadiah. Pada mas pubertas, anak akan sering kecewa karena mereka mulai menyadari bahwa doanya tidak selalu dijawab menggunakan cara mereka dan mulai mencari alasan tanpa mau menerima keyakinan begitu saja.
Pada masa ini anak mulai mengambil keputusan akan meneruskan  atau melepaskan agama yang dianutnya karena ketergantungannya pada orang tua. Remaja dengan orang tua berbeda agama akan memutuska memilih pilihan agama yang dianutnya atau tidak memilih satupun dari agama orangtuanya.
d.           Dewasa
Kelompok dewasa muda yang dihadapkan pada pertanyaan bersifat keagamaan dari anaknya akan menyadari apa yang diajarkan padanya waktu kecil dan masukan tersebut dipakai untuk mendidik anakya.
e.           Usia pertengahan
Usia pertengahan dan lansia mempunyai lebih banyak waktu untuk kegiatan agama dan berusaha untuk mengerti nilai agama yang di yakini oleh generasi muda.

4.       Konsep kesehatan spiritual.
a.       Spiritualitas
Konsep spiritual memiliki delapan batas tetapi saling tumpang tindih: Energi, transendensi diri, keterhubungan, kepercayaan, realitas eksistensial, keyakinan dan nilai, kekuatan batiniah, harmoni dan batin nurani.
1)           Spiritualitas memberikan individu energi yang dibutuhkan untuk menemukan diri mereka, untuk beradaptasi dengan situasi yang sulit dan untuk memelihara kesehatan.
2)           Transedensi diri (self transedence) adalah kepercayaan yang merupakan dorongan dari luar yang lebih besar dari individu.
3)           Spiritualitas memberikan pengertian keterhubungan intrapersonal (dengan diri sendiri), interpersonal (dengan orang lain) dan transpersonal (dengan yang tidak terlihat, Tuhan atau yang tertinggi) (Potter & Perry, 2009)
4)           Spiritual memberikan kepercayaan setelah berhubungan dengan Tuhan. Kepercayaan selalu identik dengan agama sekalipun ada kepercayaan tanpa agama.
5)           Spritualitas melibatkan realitas eksistensi (arti dan tujuan hidup).
6)           Keyakinan dan nilai menjadi dasar spiritualitas. Nilai membantu individu menentukan apa yang penting bagi mereka dan membantu individu menghargai keindahan dan harga pemikiran, obysk dsn prilaku.(Holins, 2005; Vilagomenza, 2005)
7)           Spiritual memberikan individu kemampuan untuk menemukan pengertian kekuatan batiniah yang dinamis dan kreatif  yang dibutuhkan saat membuat keputusan sulit (Braks-wallance dan Park, 2004).
8)           Spiritual memberikan kedamaian dalam menghadapi penyakit terminal maupun menjelang  ajal (Potter & Perry, 2009).
Beberapa individu yang  tidak mempercayai adanya Tuhan (atheis) atau percaya bahwa tidak ada kenyataan akhir yang diketahui (Agnostik). Ini bukan berati bahwa spiritual bukan merupakan konsep penting bagi atheis dan agnostik, Atheis mencari arti kehidupan melalui pekerjaan mereka dan hubungan mereka dengan orang lain.agnostik menemukan arti hidup dalam pekerjaan mereka karena mereka percaya bahwa tidak adanya akhir bagi jalan hidup mereka.
b.       Dimensi Spiritual ( Kozier, Erb, Blais & Wilkinson, 1995)
1)       Mempertahankan keharmonisan / keselarasan dengan dunia luar
2)       Berjuang untuk menjawab / mendapatkan kekuatan
3)       Untuk menghadapi : Stres emosional, penyakit fisik dan menghadapi kematian
c.       Konsep kesejahteraan spiritual ( spiritual well-being)  (Gray,2006; Smith, 2006):
1)       Dimensi vertikal. Hubungan positif individu dengan Tuhan atau beberapa kekuasaan tertinggi
2)       Dimensi horizontal. Hubungan positif individu dengan orang lain



5.       Hubungan antara spiritual – kesehatan dan sakit
Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat kesehatan dan prilaku klien. Beberapa pengaruh yang perlu dipahami:
1)      Menuntun kebiasaan sehari-hari
Praktik tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan mungkin mempunyai makna keagamaan bagi klien, sebagai contoh: ada agama yang menetapkan diet makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan.
2)      Sumber dukungan
Pada saat stress, individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.  sumber kekuatan sangat diperlukan untuk dapat menerima keadaan  sakitnya khususnya jika penyakit tersebut membutuhkan waktu penyembuhan yang lama.
3)      Sumber konflik
Pada suatu situasi bisa terjasi konflik antara keyakinan agama dengan praktik kesehatan. Misalnya: ada yang menganggap penyakitnya adalah cobaan dari Tuhan

6.       Manifestasi perubahan fungsi spiritual
a.       Verbalisasi distress
Individu yang mengalami gangguan  fungsi spiritual, biasanya  akan meverbalisasikan yang dialaminya untuk mendalatkan bantuan.
b.       Perubahan perilaku
Perubahan perilaku juga dapat merupakan manifestasi gangguan fungsi spiritual.  Klien yang merasa cemas dengan hasil pemeriksaan atau menunjukkan kemarahan setelah mendengar hasil pemeriksaan mungkin saja sedang menderita distress spiritual. Untuk jelasnya berikut terdapat tabel ekspresi kebutuhan spiritual.











C.      ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN SPIRITUAL

1.       Pengkajian
Pengkajian dilakukan untuk mendapatkan data subyektif dan obyektif. Aspek spiritual sangat bersifat subyektif, ini berarti spiritual berbeda untuk individu yang berbeda pula (Mcsherry dan Ross, 2002)
Pada dasarnya informasi awal yang perlu digali adalah
a)       Alifiasi nilai;  Partisipasi klien dalam kegiatan agama apakah dilakukan secara aktif atau tidak, Jenis partisipasi dalam kegiatan agama
b)      Keyakinan agama dan spiritual; Praktik kesehatan misalnya diet,  mencari dan menerima ritual atau upacara agama,  strategi koping

Nilai agama atau spiritual, mempengaruhi tujusn dan arti hidup, Tujuan dan arti kematian, Kesehatan dan arti pemeliharaan serta Hubungan dengan  Tuhan, diri sendiri dan orang lain

2.        Diagnosa Keperawatan
a)       Distress spiritual
b)      Koping inefektif
c)       Ansietas
d)      Disfungsi seksual
e)       Harga diri rendah
f)       Keputusasaan




3.       Perencanaan
1.      Distress spiritual b.d anxietas
Definisi : gangguan pada prinsip hidup yang meliputi semua aspek dari  seseorang yang menggabungkan aspek psikososial dan biologis
NOC :
a.       Menunjukkan harapan
b.      Menunjukkan kesejahteraan spiritual:
-          Berarti dalam hidup
-          Pandangan tentang spiritual
-          Ketentraman, kasih sayang dan ampunan
-          Berdoa atau beribadah
-          Berinteraksi dengan pembimbing ibadah
-          Keterkaitan denganorang lain, untuk berbagi pikiran, perasaan dan kenyataan
c.       Klien tenang
 NIC :
-          Kaji adanya indikasi ketaatan dalam beragama
-          Tentukan konsep ketuhanan klien
-          Kaji sumber-sumber harapan dan  kekuatan pasisien
-          Dengarkan pandangan pasien tentang hubungan spiritiual dan kesehatan
-          Berikan prifasi dan waktu bagi pasien untuk mengamati praktik keagamaan
-          Kolaborasi dengan  pastoral
2.      Koping inefektif b.d krisis situasi
Definisi : ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat terhadat stressor, pilihan respon untuk bertindak secara tidak adekuat dan atau ketidakmampuan menggunakan sumber yang tersedia
NOC:
-          Koping efektif
-          Kemampuan untuk memilih antara 2 alternatif
-          Pengendalian impuls : kemampuan mengendalikan diri dari prilaku kompulsif
-          Pemrosesan informasi : kemampuan untuk mendapatkan dan menggunakan informasi
NIC :
-          Identifikasi pandangan klien terhadap kondisi dan kesesuaiannya
-          Bantu klien mengidentifikasi kekuatan personal
-          Peningkatan koping:
ènilai kesesuaian pasien terhadap perubahan gambaran diri
ènilai dampak situasi kehidupan terhadap peran
èevaluasi kemampuan pasien dalam membuat keputusan
èAnjurkan klien menggunakan tehnik relakssi
èBerikan pelatihan ketrampilan sosial yang sesuai
-          Libatkan sumber – sumber yang ada untuk mendukung pemberian pelayanan kesehatan

D.    Pelaksanaan
Dilaksanakan sesuai dengan NIC yang telah ditentukan

E.     Evaluasi
Evaluasi dengan melihat NOC yang telah ditentukan , secaara umum  tujuan tercapai apabila klien ( Hamid, 1999)
1.      Mampu beristirahat dengan tenang
2.      Menyatakan penerimaan keputusan moral
3.      Mengekspresikan rasa damai
4.      Menunjukkan hubungan yang hangat dan terbuka
5.      Menunjukkan sikap efektif tanpa rasa marah, rasa berslah dan ansietas
6.      Menunjukkan prilaku lebih positif
7.      Mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya









                                                                                         
DAFTAR PUSTAKA
Dochterman, J. M and Bulecheck, G. M., 2004, Nursing Interventions Clasification (NIC), Mosby: St. Louis, Missouri
Doenges, M. E., Moorhouse. M. F., Geisler. A. C., Rencana Asuhan Keperawatan, EGC: Jakarta
Hamid, A, Y., 1999, Buku ajar Aspek Spiritual dalam Keperawatan, Widya medika: Jakarta
Nurjanah, I, 2010, Intan’s Screening Diagnoses Assesment (ISDA), Mocomedia: Yogyakarta
Nurjanah, I, 2004, Pedoman Penanganan pada Gangguan Jiwa, Mocomedia: Yogyakarta
NANDA, 2007, Nursing Diagnoses: Definitions and Clasification 2007-2008, Philadelphia
NANDA, 2010, Diagnosa Keperawatan: Definisi dan klasifikasi 2009-2010, EGC: Jakarta
Potter, P. A., Perry, A. G., 1999, Fundamental Keperawatan, Salemba medika: Jakarta
Sue Moorhead., Johnson, M., Mass. M., 2004, Nursing Outcomes Clasification (NOC), Mosby: St. Louis, Missouri
Taylor, Lilis, Lemone, Lyn, 2011, Fundamental of Nursing The art and Sience of Nursing Care,  lippincott

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar